Mentan: Selesaikan Pangan Tak Bisa Sendiri

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengakui untuk menyelesaikan persoalan pertanian, khususnya pangan tidak bisa sendiri. Karena itu perlu dukungan kementerian lain, baik dari sisi hulu hingga hilir.

Dari sisi hulu, Amran berterima kasih kepada Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang telah membangun 30 ribu embung dan mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Sedangkan dalam pemasaran, dukungan Kementerian Perdagangan dengan menerapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) membuat harga tidak melonjak tinggi. Apalagi dalam pemasaran produk pangan, panjangnya mata rantai membuat disparitas harga mencapai 300â„….

Di Temanggung, Jawa Tengah, Amran mencontohkan, harga bawang merah di tingkat petani hanya Rp 8 ribu/kg, sementara di Jakarta mencapai Rp 30 ribu/kg. “Tidak ada di negara manapun, seperti Indonesia yang disparitas harga di produsen dan konsumen mencapai 300â„…. Ini harus kita selesaikan bersama,” katanya di sela-sela Apel Siaga Toko Tani Indonesia (TTI) di Rengasdengklok, Karawang, Selasa (18/4).

Untuk membantu menyelesaikan gap harga yang terlalu tinggi tersebut, Amran mengatakan, pihaknya mengajak kepolisian dan tentara mengawal distribusi pangan ini. Ternyata dengan kerjasama ini cukup efektif membantu mengawasi pelaku usaha yang berupaya mempermainkan harga.

“Setelah tertangkap empat pelaku, harga cabai langsung turun dari Rp 160 ribu menjadi Rp 40 ribu/kg. Saya berharap kalau kepolisian bisa menangkap satu lagi tersangka, sehingga harga akan turun lagi jadi Rp 30 ribu/kg,” tuturnya.

Amran menganggap keuntungan yang selama ini didapatkan pelaku usaha yang mencoba mempermainkan harga cabai mencapai Rp 50 miliar. Itupun hanya satu produk yakni cabai rawit. Padahal banyak jenis cabai lainnya seperti cabai merah keriting.

Dengan adanya kerjasama itu, Amran menilai, sebagai sejarah baru dalam dunia pertanian Indonesia. Sebab, pada Januari-Februari lalu harga beberapa komoditas pangan seperti beras dan cabai relatif stabil.

Apalagi lanjut dia, kini ada dukungan Bulog yang telah menyiapkan stok bawang merah sebanyak 2 ribu ton, bawang putih 1.000 ton dan beras 2 juta ton. Kepada Bulog, Amran juga meminta terus menyerap gabah petani dan jangan membiarkan petani berjalan sendirian. “Jika gudang Bulog penuh, bisa meminjam gudang milik Kodim untuk menyimpan sementara,” katanya.

Sementara itu Direktur Komersial Perum Bulog, Karyawan Gunarso mengatakan, pihaknya telah menyiapkan stok beras untuk mengantisipasi gejolak harga pangan, khususnya beras menjelang Ramadhan dan Lebaran mendatang.

Setidaknya ada dua mekanisme untuk menjaga stabilisasi beras. Pertama, penjualan beras dengan Operasi Pasar Murni (OPM) untuk beras kualitas premium. Mekanisme kedua, ungkap Karyawan, penjualan beras kualitas medium melalui Cadangan Beras Pemerintah (CBP).

“Stok beras premium yang kita siapkan untuk dijual secara komersial sekitar 150-200 ribu ton. Sedangkan CBP sisanya dari total 2 juta ton tersebut,” katanya.

Untuk komoditas daging, Karyawan mengatakan, Bulog hingga kini masih memiliki stok daging kerbau sebanyak 40 ribu ton. Adapun komoditas gula ada lebih kurang 300 ribu ton. “Nanti kegiatannya bisa dengan pasar murah atau melalui Rumah Pangan Kita yang kini jumlahnya sudah mencapai 16 ribu RPK,” katanya. (in)

You might also like More from author

Leave a comment