Advokat Dian Farizka Polisikan Bupati Busel

JAKARTA – Bupati Buton Selatan Agus Feisal Hidayat kembali dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan tindak pidana sumpah palsu saat menjadi saksi dalam persidangan Bupati Buton non aktif Samsu Umar Abdul Samiun di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat oleh Dian Farizka yang juga merupakan salah satu saksi yang ikut memberikan kesaksian dalam persidangan.
Namun, Agus Feisal tak sendiri, Abu Umaya juga ikut dilaporkan dalam perkara tersebut dengan Laporan Polisi nomor: LP/5070/X/2017/PMJ/Dit.Reskrimum tertanggal 24 Oktober 2017 atas dugaan tindak pidana KUHP Pasal 242 dan 317 tentang Sumpah Palsu dan Pengaduan Palsu.
Dian Farizka yang dikonfirmasi membenarkan tentang laporan tersebut. Dijelaskan, dalam salinan putusan Pengadilan Tipikor pada PN Jakarta Pusat Nomor 83/Pid.Sus/TPK/2017/PN.Jkt.Pst, tanggal 27 September 2017 dalam pertimbangan majelis hakim pada halaman 151 yaitu ‘Menimbang, bahwa menurut majelis keberatan terdakwa sebagaimana yang dikemukakan dalam pembelaannya adalah beralasan karena tidak ada kaitannya dengan terdakwa’.
“Artinya adalah bahwa saya tidak terbukti membuat permohonan Sengketa Perselisihan Hasil Pemilukada Kabupaten Buton dengan Pemohon La Uku-Dani ke Mahkamah Konstitusi tahun 2011,” tegas Dian Farizka yang juga berprofesi sebagai advokat ini.
Ia menegaskan, permohonan sengketa Pilkada pasangan La Uku-Dani di MK sudah masuk di MK sejak Jum’at, 12 Agustus 2011 pukul 14.58 dan dibuat langsung oleh pengacara La Uku-Dani, yakni ¬†Munsir dan almarhum Mi’rajtullah, bukan dirinya. Hal itu dibuktikan dengan Akta Penerimaan Berkas Permohonan Nomor 303/PAN.MK/2011. Sementara, Dian Farizka bertemu di Plaza Indonesia dengan Umar Samiun pada Jumat malam sekira pukul 19.00 WIB.
“Kalau kata Abu Umaya pertemuan di Plaza Indonesia itu baru rencana mau membuat permohonan punya Pak La Uku-Dani, kan itu aneh dan menyesatkan. Berarti juga laporan atau keterangan Agus Feisal dan Abu Umaya di BAP KPK dan keterangan saksi di depan persidangan hanya mengada-ada dan tidak mendasar, makanya 2 orang itu pantas harus dilaporkan, biarlah hukum yang bicara,” tukasnya.
Tak hanya itu, Dian Farizka juga melaporkan mengenai transferan uang sebesar Rp. 9 juta ke rekening Dian Farizka. Sebelumnya uang tersebut didalam persidangan kata Abu Umaya merupakan imbalan atas jasa pembuatan gugatan pasangan La Uku-Dani di MK. Padahal dalam persidangan, itu tidak terbukti. Uang itu merupakan pembayaran utang Abu Umayah kepada La Ode Agus Mukmin.
“Tahun 2011 Agus Mumin tidak punya rekening di bank, makanya dulu waktu pemeriksaan di KPK, penyidik meminta surat kuasa kepada Agus Mumin untuk mengecek semua perbankan, tetapi kenyataannya memang betul Agus Mukmin tidak punya rekening. Coba kalo Agus Mukmin punya rekening pasti akan disodorkan ke majelis hakim melalui penuntut umum KPK,” urainya.
Intinya, lanjut Dian Farizka dari seluruh tuduhan-tuduhan Agus Feisal dan Abu Umaya terhadap dirinya di persidangan, baik dari pembuatan permohonan, persoalan uang sebesar Rp 9 juta, Dian Farizka bisa menemui Akil Mochtar karena merupakan pegawai MK saat itu dan lainnya menurut pertimbangan majelis hakim semua itu tidak terbukti.
“Semua sudah jelas di persidangan, hakim memutuskan itu semua tidak terbukti, (putusan, red) itu sudah jelas,” tutup Dian Farizka.

Saat  wartawan kepton pos berupaya mengonfirmasi terkait persoalan ini, Bupati Busel Agus Feisal Hidayat tidak dapat dihubungi. Nomor Handphonenya tidak aktif. Menurut pengakuan ajudan Bupati yang dikonfirmasi melalui media selulernya, Bupati Busel sedang berada di Jakarta dalam rangka pertemuan kepala daerah se-Indonesia.

(Kepton Pos/My)

You might also like More from author

Leave a comment