Mengunjungi Metro Entertaint, Icon Hiburan di Kota Tua

Karyawan Metro Entertaint Kota Baubau

BAUBAU, itulah nama sebuah kota tua nan kecil  di Pulau Buton. Dahulu, Baubau mengambil peran sangat penting dalam berbagai aspek pembangunan di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Sebagai pusat peradaban kesultanan Buton, Baubau pernah menjadi pusat pemerintahan di Sulawesi Tenggara, sebelum Provinsi Sultra terbentuk pada Tahun 1964.  Sebagai Kota tua, Baubau kini  banyak mengalami kemajuan. Lompatan kemajuan daerah ini terlihat terang ketika Amirul Tamim menjadi Walikota. Skema pembangunan dilakukan dengan membuka kawasan baru dengan harapan akses bagi warga untuk mengembangkan aktivitas perekonomian semakin terbuka lebar.

Sebagaimana halnya kota kota besar di tanah air. Baubau yang dahulu sebagai pusat pemerintahan kesultanan Buton,  juga terus tumbuh dan berkembang menjadi kota modern. Sekarang, kota tua ini makin memperlihatkan eksistensinya sebagai pusat perekonomian yang sangat strategis dengan mengandalkan sektor perdagangan jasa.

Kegiatan investasi juga tumbuh dinamis di kota ini. Termasuk investasi sektor hiburan dan pariwisata. Para investor yang memilih berinvestasi di  bidang  hiburan dan entertaint makin profesional mengelola jasa hiburannya, METRO ENTERTAIN (ME) adalah salah satunya.

Perusahaan yang dirintis keluarga Toni Liem Putra ini cukup dikenal masyarakat. Selain dikelola profesional, Metro Entertaint menawarkan beberapa paket hiburan masyarakat yang tak sama dengan tempat hiburan lainnya yang ada di Baubau.

Sebagian besar warga Baubau dan sekitarnya, menjadikan Metro Entertaint sebagai pilihan utama jika ingin bersantai menikmati hiburan. Hadir dengan konsep modern dengan memadukan ciri khas lokal, Metro Entertaint sukses merubah kesan negatif dunia hiburan di kota ini.

Toni Liem Putra, selaku pemilik ME, sejak awal berusaha membangun tempat hiburan yang representatif dan menjadi icon hiburan terdepan, tentunya dengan mengutamakan kemanan tamu demi menjauhkan image negatif pada tempat hiburan. Karena itu, perpaduan konsep modern dan tradisional melekat pada perubahan drastis metro entertaint yang dulunya bernama Metro Jaya Group.

“Pihak management mewajibkan karyawan pria untuk mengenakan Kampurui disetiap pelayanan. Untuk wanita menggunakan sarung Buton. Selain itu, busananya juga kita selipkan tenunan khas Buton, seperti kerak dan lengan baju karyawan. Semua kita seragamkan,” Toni Liem Putra kepada wartawan.

Selain busana, menu makanan khas Buton seperti Parende dan makanan tradisional lainnya juga tersedia di cafe Metro Entertaint. Menurut GM, Arifan Graha, menu makanan tradisional khas Buton tak kalah dari Western Food dan Chinese Food yang menjadi menu andalan Metro Entertaint.

Selama ini, tempat hiburan terkesan dianggap rawan, tapi kehadiran Metro Entertaint yang mengutamakan kenyamanan pengunjung sedikit demi sedikit telah merubah sisi negatif dunia hiburan di kota tua ini. Apalagi, seluruh tamu yang memasuki pintu utama ME harus melalui pemeriksaan metal detektor.

“Visi kita menjadikan Metro Entertaint menjadi ikon baru di Sulawesi Tenggara, dengan menawarkan kenyamanan kepada pengunjung dengan konsep pelayanan terbaik,” ujar Toni.
Kenyamanan tamu menjadi faktor penting yang jadi perhatian pengelola ME, sebab di Metro Entertaint terdapat beragam paket hiburan, seperti cafe bar, karaoke dan billiard. Di cafe ME, tamu atau pengunjung bisa menikmati aneka makanan dan minuman sambil menikmati irama musik secara live. Di ruangan ini, bagi pengunjung yang tidak merokok, tersedia ruangan khusus yang dijamin tak terganggu dengan asap rokok. (bagian-1)

You might also like More from author

Leave a comment