Pemda dan Perguruan Tinggi Lokal belum Bersinergi

BAUBAU- Keberadaan Perguruan Tinggi (PT) di Kota Baubau memberikan kontribusi besar bagi daerah. Pendidikan sendiri menjadi indikator utama Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Namun, keberadan kampus ini belum bersinergi baik dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau.

Rektor Unidayan, Ir H LM Sjamsul Qamar MT mengatakan, hadirnya kampus di Kota Baubau mampu menekan angka lulusan SLTA ke luar daerah, bahkan sebaliknya mampu menghadirkan alumni SLTA dari luar daerah masuk ke Baubau untuk berkuliah. Sehingganya uang berputar di Kota Baubau.

Keberadaan kampus beserta mahasiswa pada akhirnya menggeliatkan berbagai sektor usaha baru, seperti warung makan, kos-kosan, fotocopy, komputer, dan lainnya. Dalam hal ini peningkatan ekonomi di dorong juga oleh keberadaan kampus. Kampus juga dapat mendorong peningkatan SDM.

Hanya saja, menurutnya Pemkot belum menganggap Kampus lokal sebagai mitra penting. Kontribusi PT lokal untuk ikut serta terlibat secara aktif dalam membantu Pemda terkait agenda pembangunan masih sangat minim.

Menurut Sjamsul, sudah sepantasnya Pemda berkolaborasi dengan PT lokal. Apalagi Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir sudah mendorong kerjasama itu untuk dilakukan, baik dalam pembangunan maupun pengembangan penelitian.

Sekilas diceritakannya, salah satu contoh kecil keberhasilan sinergi antara Pemerintah dan PT tergambar di pembangunan Amerika Serikat (AS).

“Ketika Pemerintah menyediakan dana penelitian bagi kampus untuk menganilisis jalan yang diragukan kualitasnya karena tidak sesuai beban kendaraan. Dengan dana 50 juta dolar AS, PT kemudian menjabarkannya dalam sebuah buku yang kemudian dijadikan rujukan sebagai standar pembuatan jalan di negara adidaya tersebut,” katanya.

Senada dengan itu, Wakil Rektor (Warek) I Unidayan, Ir Tamar Mustari MSi mengatakan, sudah seharusnya Pemda berterimakasih pada tiap kampus. Kata dia, berkat adanya kampus kebocoran ekonomi daerah dapat diminimalisir.

“Pemerintah sebetulnya harus berterima kasih dengan kampus dalam hal mengakselarasi perkembangan ekonomi mengatasi kebocoran ekonomi. Maksud terjadi kebocoran ekonomi yakni adanya masyarakat yang migrasi dalam hal ini tamatan SMA yang berjumlah 3000 sampai 5000 orang melanjutkan studi keluar daerah. Dengan keluarnya mereka maka sudah tentu uang juga keluar, mestinya kan tidak keluar,” katanya.

“Setiap anak tentu akan disubsidi oleh orang tuanya melalui kiriman minimal Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta per bulan. Kalau semua anak itu kuliah disini maka tentunnya uang tersebut akan berputar di sini (di Baubau, red), sehingga tentu akan menggairahkan sektor ekonomi rakyat, baik itu transportasi, kebutuhan pangan, usaha kos-kosan,” sambungnya.

Dari gambaran tersebut, kata dia, sudah sepantasnya Pemerintah berpihak dengan PT dengan cara memberikan suport. Menurutnya suport yang dimaksud bukan persoalan pemberian dana melainkan keterlibatan PT dalam memikirkan pembangunan daerah.

“Keterlibatan untuk semua sektor, bisa perencanaan dana desa, pengembangan sumber daya manusia, bidang sektor perikanan. Disetiap kampus itu kan ada fakultasnya, misalnya di Unidayan ada delapan fakultas. Saya kira tinggal mau apa tidaknya pemerintah,” katanya.

(Kepton Pos/My)

You might also like More from author

Leave a comment