Wakil Wali Kota Baubau: Pesta adat “Ma’ata’a Sarana Edukasi Untuk Generasi Mendatang

BAUBAU-Wakil Wali Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, La Ode Ahmad Monianse menyebutkan bahwa pesta adat “Ma’ata’a” yang rutin setiap tahun dilaksanakan masyarakat setempat bermakna spiritual dan mengedukasi generasi-generasi pelanjut dalam melestarikan nilai-nilai budaya.

“Bermakna spiritual karena didalam prosesi acara ini adalah upaya kita memuja kepada Allah SWT untuk meminta sebuah keselamatan, kesejahteraan dan keberlangsungan kehidupan kita,” ujar Wakil Wali Kota Baubau, ketika memberikan sambutan pada kegiatan pesta adat “Ma ata a” di Baruga Kelurahan Karya Baru Kecamatan Sorawolio, Selasa.

Pelaksanaan pesta adat bagi masyarakat Ciacia-Laporo, menurutnya merupakan sebuah edukasi mendidik bagi generasi-generasi selanjutnya untuk selalu belajar dari proses panjang kegiatan ini tentang bagaimana berkerja sama dan membangun komunitas yang saling menghargai, mengayomi dan saling menyayangi sehingga komunitas akan terus hidup dan berkembang.

“Oleh karena itu, mewakili Pemkot Baubau mengapresiasi pelaksanaan ini. Dan mudah-mudahan kita semua bisa melestarikan, karena dua fungsi tadi (spiritual dan makna edukasi) yang saya kira tidak bisa tergantikan oleh acara lain,” ujarnya, mewakili Wali Kota Baubau, AS Tamrin.

Ia mengatakan, pelestarian nilai-nilai budaya utamanya yang berbasis pada masyarakat adat dan khususnya berbasis pada masyarakat pertanian adalah sebuah budaya yang tidak boleh dilupakan. Dengan visi besar Kota Baubau yakni maju, sejahtera dan berbudaya terdapat salah satu poin sejehtera adalah ketahanan pangan.

Dalam konteks ketahanan pangan itu, kata dia, Kota Baubau sudah memplot Kecamatan Sorawolio dan Bungi sebagai daerah yang harus secara serius menjaga dan menjadi lumbung pangan buat daerah, karena bila daerah tidak punya satu kawasan tertentu sebagai lumbung ketahanan pangan, maka ketergantungan pada luar akan sangat besar. Dan itu benar-benar sangat melemahkan.

“Bayangkan kalau pangan masih tergantung dengan luar berapa tingkat bahayanya. Misalnya pada saat kita ketergantungan pada beras hanya datang dari Sulsel namun ketika ada gelombang pasang adanya badai bagaimana nasib kita. Oleh karena itu, kita dengan adanya potensi yang besar di Sorawolio dan Bungi yang bisa kita kembangkan menjadi lumbung pangan harus kita pertahankan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pesta Adat Ma ata a, La Rusu memaparkan, pesta adat yang dilaksanakan tersebut selain bertujuan untuk melastarikan nilai-nilai budaya masyarakat Cia-cia Laporo pada umumnya dan khususnya yang berdomisili di Karya Baru, juga untuk memupuk rasa kebersamaan dan kekeluargaan masyarakat setempat dan pemerintahannya.

“Kita tahu bahwa negara kita termasuk Kota Baubau masih dalam situasi ancaman COVID-19. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat Karya Baru patut bersyukur kepada Allah SWT dan berterima kasih kepada Pemkot Baubau atas bimbingan dan arahannya,” ujarnya.

Mantan anggota DPRD Kota Baubau ini mengatakan, kegiatan pesta adat tersebut dilaksanakan berdasarkan keputusan “Parabela” (tokot adat) tentang pentingnya pelaksanaan acara itu.

Kata dia juga, kegiatan pesta adat yang akan digelar kurang lebih lima hari dengan sejumlah agenda seperti tarian dan sunat massal secara adat itu anggarannya bersumber dari swadaya masyarakat setempat. Dan kegiatan tetap dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker dan jaga jarak.

Pada kegiatan pesta adat Ma ata a dengan makan bersama itu disajikan ratusan nampan berisi makanan khas daerah.

Acara yang diwarnai hujan ringan itu, hadir Ketua DPRD Baubau H Zahari, Camat Sorawolio Muslimin, Kapolsek Iptu Tri Nugroho, Koramil Sorawolio Kapt Arm Ramli, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda dan wanita.(adm)

You might also like More from author

Comments are closed.