RUSMAN EMBA (RE) “MENCAPAI PRESTASI DI TENGAH UJIAN DAN FITNAHAN KEJI”

OPINI:

LM. Rusman Emba, ST (RE) pasca di lantiknya sebagai Bupati Muna dan Ir. Malik Ditu sebagai Wakil Bupati Muna pada bulan september 2016 yang lalu perpaduan Politisi-Birokrasi ini terus berkarya menggenjot sejumlah pembangunan, melanjutkan serta menyempurnakan beberapa peninggalan pembangunan yang telah ada pada pemerintahan sebelumnya. Pasca menyempurnakan Mesjid Al Munajad yang kini menjadi salah satu ikon kota Raha, melalui konsep “MAI TE WUNA”, RE melestarikan kebudayaan dan membangun sektor pariwisata, mengembangkan sektor-sektor usaha produktif yang berbasis ekonomi kerakyatan serta menciptakan tata kelola pemerintahan daerah yang baik sebagaimana VISI “RUMAH KITA” pada pilkada 2015 yang lalu yakni Terwujudnya Muna yang Kuat, Mandiri dan Bermartabat.

Pada konteks pembangunan infrastruktur RE berhasil menggenjot sejumlah pembangunan sebagaimana telah saya uraikan dalam edisi sebelumnya RE IS THE REAL POLITE AND CULTURED LEADERS (RUSMAN EMBA PEMIMPIN SANTUN DAN BERBUDAYA) dan pada ulasan ini adalah pencapaian prestasi RE “di tengah ujian dan fitnahan keji” dengan menggunakan variabel-variabel ukur sehingga lebih objektif dan rasional.

Dalam pertumbuhan ekonomi kabupaten muna pada tahun 2016 s/d 2019 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) memang cenderung mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun yaitu (2016) 6,08%, (2017) turun menjadi 5,02%, lalu (2018) kembali mengalami kenaikan yakni 5,16% dan (2019) naik lagi menjadi 5,40%, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :

Pertama, hampir seluruh wilayah (17 kab/kota) yang ada di sulawesi tenggara (sultra) berdasarkan data BPS ternyata juga mengalami kecenderungan pertumbuhan ekonomi yang fluktuatif, bahkan kota kendari, bau-bau dan kolaka juga pernah anjlok sampai kisaran poin 5 dan 6% sehingga menyebabkan akumulasi pertumbuhan ekonomi sultra pun secara umum mengalami perlambatan yaitu (2016) 6,51%, naik menjadi 6,76% pada (2017), lalu terjadi penurunan kembali di (2018) menjadi 6,42%, dan mengalami kenaikan menjadi 6,51% pada (2019) namun tetap pada nilai yang sama pertumbuhannya dengan (2016).

Kedua, pertumbuhan ekonomi indonesia pada periode kurun waktu tiga tahun terakhirpun atau sejak tahun 2016 s/d 2019 juga mengalami hal yang sama yakni (2016) pertumbuhannya 5,03%, pada (2017) meningkat di angka 5,06%, (2018) meningkat kembali menjadi 5,17% namun pada (2019) terjadi penurunan yang signifikan menjadi 5,02% bahkan lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi pada (2016) lalu, menurut Kepala BPS Suhariyanto bahwa “Mempertahankan pertumbuhan ekonomi di angka 5% di situasi sekarang ini adalah tidak gampang, pertumbuhan 5,02 persen di situasi ekonomi gobal yang menunjukkan pelemahan, ini cukup baik”.

Ketiga, BPS juga mencatat bahwa perlambatan ekonomi empat negara mitra dagang juga menjadi salah satu faktor pemicu penurunan pertumbuhan ekonomi indonesia secara umum karena indonesia tak terlepas dari empat negara mitra dagang utama yang perekonomiannya juga melambat di sepanjang 2019, yaitu Singapura, China, Korea Selatan, dan Amerika Serikat dan bahkan banyak negara di dunia juga mengalami perlambatan ekonomi, ini semua menunjukkan bahwa perekonomian global masih lemah dan belum stabil akibat lemahnya perdagangan global dan investasi dan realisasi pertumbuhan ekonomi indonesia tidak terlepas dari kondisi perekonomian global yang masih diliputi oleh ketidakpastian.

Namun, hal yang menarik adalah pada pemerintahan RE di tengah kondisi perekonomian bangsa dan ekonomi global yang belum stabil justru yang mencengangkan adalah :

Pertama : tercatat ada peningkatan yang signifikan atas Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Muna sebagaimana data BPS (dalam miliar rupiah) yaitu :

(2016 : 4966,14)
(2017 : 5455,09)
(2018 : 5920,80)
(2019 : 6421,15).

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah tertentu. PDRB bisa juga didefinisikan sebagai jumlah nilai barang dan jasa akhir (netto) yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi atau bisa juga dikatakan bahwa PDRB adalah jumlah keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari semua kegiatan perekonomian di seluruh wilayah dalam periode tahun tertentu, yang pada umumnya dalam waktu satu tahun.

Kedua, menurunnya angka penduduk miskin kabupaten muna sebagaimana data BPS (dalam persen) sebagai berikut :

(2016 : 15,37)
(2017 : 14,85)
(2018 : 13,19)
(2019 : 12,85).

Sejatinya sebuah pembangunan dan pertumbuhan ekonomi harus mampu menurunkan angka KEMISKINAN dan PENGANGGURAN, anehnya beberapa fenomena “paradoksal” yang terjadi di beberapa daerah yaitu peningkatan pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi tidak dibarengi dengan penurunan angka kemiskinan dan pengangguran, fenomena “paradoksal” ini salah satunya menurut Rojani (2019) di sebabkan oleh masyarakat golongan bawah kurang mempunyai akses terhadap “faktor-faktor produksi” dimana dalam kegiatan ekonomi faktor-faktor produksi disinergikan hanya untuk menciptakan “nilai tambah” (value added) dan beberapa tahun terakhir masih menurut Rojani bahwa dominasi pertumbuhan ekonomi yang tinggi justru di dorong oleh komponen konsumsi yang tinggi sehingga kemampuan untuk investasi menjadi terkalahkan sehingga beberapa wilayah/daerah pilihannya hanya ada dua yakni : pertumbuhan ekonomi “tinggi” untuk sebagian masyarakat saja, atau pertumbuhan ekonomi “tidak terlalu” tinggi, tetapi dapat mengurangi kemiskinan dan pengangguran dan RE sebagai pemimpin yang pro rakyat lebih memilih opsi walaupun pertumbuhan ekonomi “tidak terlalu” tinggi karena disebabkan oleh beberapa hal tetapi kemiskinan dan pengangguran sedikit banyaknya bisa teratasi ketimbang memilih pertumbuhan ekonomi yang “tinggi” tetapi hanya di nikmati oleh sebagian kalangan “elite” saja.

Berdasarkan data penduduk miskin kabupaten muna di atas adalah bukti strategi RE dalam menurunkan angka kemiskinan dengan menitik beratkan pembangunan infrastrukturnya pada pembangunan faktor-faktor produksi sebagai akses usaha-usaha ekonomi kreatif dan kerakyatan diantaranya dengan menata ulang kawasan kuliner pedagang kaki 5, membangun tempat pedagang makanan khas tradisional, menata kawasan tugu menjadi tempat usaha-usaha ekonomi kreatif, membangun pasar-pasar tradisional di beberapa kecamatan, menyempurnakan pembangunan pasar laino, membangun jalan-jalan usaha pertanian, memfasilitasi akses pasar jagung kuning-pertanian, pemberian bantuan alat tangkap nelayan-perikanan, bantuan bibit peternakan dan lain sebagainya yang kesemuanya itu terbukti “AMPUH” dalam mengurangi kemiskinan dan pengangguran sebagaimana dalam data BPS tentang tingkat pengangguran terbuka terjadi penurunan yang cukup signifikan di kabupaten muna yakni :

(2017 : 5,65)
(2018 : 5,61)
(2019 : 4,70).

Dan yang terakhir sebagai parameter alat ukur perbandingan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara/wilayah itu maju, berkembang atau terbelakang sekaligus untuk mengukur kebijakan ekonomi terhadap kualitas hidup yang meliputi harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup yang digunakan oleh seluruh negara/wilayah di dunia sejak tahun 1990 UNDP (United Nations Development Programe) atau Badan Program Pembangunan PBB telah menggunakan standar Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Programme (HDI). Nilai IPM dikelompokan menjadi 4 kelompok besar untuk melihat capaian pembangunan manusia disuatu negara/wilayah :

1. Kelompok “sangat tinggi” : IPM > 80.
2. Kelompok “tinggi” : 70 < IPM < 80.
3. Kelompok “sedang” : 60 < IPM < 70.
4. Kelompok “rendah” : IPM < 60.

Data BPS tentang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kabupaten muna adalah :

(2016 : 66,96)
(2017 : 67,61)
(2018 : 68,47)
(2019 : 68,97)

Berdasarkan data tersebut RE berhasil menaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahap demi tahap walaupun masih dalam kategori “sedang” tetapi yang cukup membanggakan adalah kita tidak masuk dalam kategori “rendah” bahkan tinggal beberapa poin lagi (1,03 poin) kabupaten muna akan masuk dalam kelompok kategori “tinggi” tinggal “MELANJUTKAN” berbagai program-program kerakyatan lainnya, karena hanya RE lah yang memiliki niat dan telah terbukti bukan hanya sekedar membangun namun sekaligus mensejahterahkan rakyatnya.

PENULIS ADALAH: Amir Fariki (Jubir Paslon TERBAIK)

You might also like More from author

Comments are closed.