Wakil Menteri Perdagangan Masuk Sultra, Waode Rabia Kawal Sampai Wakatobi

MUNA,KEPTONNEWS.COM – Demi tugas negara, meski gelombang tinggi, Wakil Menteri Perdagangan RI (Wamendag) , Jery Sambuaga beserta senator Wa Ode Rabia Al Adawia Ridwan Bae tetap lanjutkan kunjungan ke Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kata Waode Rabia Al Adawia Ridwan Bae bahwa setelah 2 hari melakukan kunjungan kerja dan rapat koordinasi di Kabupaten Buton, Wamendag menyebrang ke Wakatobi melalui pelabuhan Lasalimu, Pantai Kabupaten Buton.

‘Kunjungan kerja ke Wakatobi tersebut, saya yang dampingi,”ucap Anggota DPD RI Asal Sultra Wa Ode Rabia Al Adawia Ridwan pada saat di hubungi via telepon Minggu (30/5/2021).

Katanya, dengan menumpangi 2 unit speed boat dan dikawal speedboat milik BASARNAS, Wamendag dan rombongan menyebrang ke Kab. Wakatobi. Meskipun ketinggian gelombang air laut mencapai 4 meter di sore itu, tidak menyurutkan sedikitpun langkah untuk melakukan kunjungan di kepulauan Buton.

Menurut Rabia, Wamendag Jerry Sambuaga sama seperti dirinya sama-sama millenials, yang masih memiliki fisik prima untuk menuntaskan kerja-kerja mereka. Ditambah lagi memiliki amanah dan tanggung jawab yang besar untuk kepentingan masyarakat.

“Walaupun perasaan agak takut, namun karena keyakinan yang penuh dan penguatan dari Wakil Bupati Wakatobi bahwa perjalanan ini aman, Bismillah kami Jalan”,”jelas Rabia.

Agenda kunjungan Wamendag di Wakatobi hampir sama dengan di Kabupaten Buton. Di Wakatobi Wamendag juga melakukan kunjungan ke pasar Marina dan mengecek Sistem Resi Gudang (SRG) Liya Mawi.

Dalam kunjungan kali ini Wamendag RI mengatakan ada beberapa keluhan dari pengelola SRG utamanya persoalan permodalan.

Mereka tidak bisa menerima fasilitas dari BRI Kab. Wakatobi karena persoalan limit harus mengurus ke BRI Bau-Bau. “Ini saya akan kordinasikan kembali ke pihak BRI”, kata Jery Sambuaga.

Lanjut, Rabia menjelaskan pentingnya SRG bagi petani. Melalui sistem resi gudang, petani tidak harus menjual komoditasnya saat panen. Namun, komoditas hasil panen tersebut dapat disimpan terlebih dulu di dalam gudang, dan menjualnya di kemudian hari ketika harga komoditas menjadi lebih baik.

“Bagi petani sistem resi gudang membantu petani mendapatkan harga yang lebih baik, kepastian kualitas dan kuantitas atas barang yang disimpan, mendapatkan pembiayaan dengan cara tepat dan mudah, mendorong berusaha secara berkelompok, sehingga meningkatkan posisi tawar,” kata Rabia.

Lebih jauh ia menjelaskan, bahwa petani dapat menyimpan hasil komoditasnya di gudang-gudang yang telah mendapatkan izin dari Kementerian Perdagangan. Dengan menyimpan hasil komoditasnya di gudang, petani akan mendapatkan resi yang dapat digunakan sebagai jaminan untuk mendapatkan pembiayaan dari bank.

“Ini akan mendorong tumbuhnya industri pergudangan dan bidang usaha terkait serta meningkatkan keberadaan sumber bahan baku berkualitas dari komoditas petani yang disimpan di gudang”  tutur Rabia.

Rabia berharap pemerintah daerah dapat mendukung implementasi SRG di daerah masing-masing melalui kebijakan yang mendorong pemanfaatan SRG, dukungan infrastruktur, pembentukan kelembagaan SRG, serta koordinasi aktif antarpemangku kepentingan dalam SRG.

Dia mengatakan, peran serta pemerintah daerah sangatlah penting dalam menjalankan SRG. Pasalnya, pemerintah daerah bisa menjadi fasilitator untuk mencari pihak-pihak yang bersedia menjadi pengelola gudang SRG. Adapun, pengelola gudang SRG bisa berasal dari badan usaha milik negara (BUMN), badan usaha milik daerah (BUMD), koperasi ataupun perusahaan swasta yang berbadan hukum.

“Pemerintah daerah juga bisa menjadi jembatan bagi pengelola gudang SRG untuk mencari pembeli tetap bagi komoditas yang diresigudangkan di daerahnya. Hal itu dibutuhkan agar kontinuitas sistem dalam SRG dapat berjalan dengan baik.,”ujarnya. (Borju)

You might also like More from author

Comments are closed.