Uji Coba Komiditas Bawang Merah Demplot Disorot Gagal, Tamrin: Bukan Gagal, Tapi Tantangan 

WAKATOBI,KEPTONNEWS-COM-Kepala Dinas Pertanian Wakatobi, Ir. Tamrin, klarifikasi adanya sorotan publik bahwa program pengembangan komoditas bawang merah yang dicanangkan pemerintah Wakatobi gagal. 

Sorotan tersebut muncul setelah adanya satu dari tiga titik lokasi uji coba penanaman bawang merah sistem demplot di kawasan Desa Padakuru Kecamatan Wangi-wangi baru-baru ini mati sebelum waktu panen.

Menurutnya, bahwa kondisi ini besar kemungkinan tanaman diserang penyakit moler akibat hama cendawa. Kondisi tersebut biasanya terjadi akibat curah hujan yang tinggi.

“Salah satu penyebab dari berkembangnya cendawan ini karena adanya hujan deras. Biasanya umur tanaman sudah masuk produksi, akan memancing cendawan, hingga merajalela diseluruh bedengan,” terang Tamrin ditemui sejumlah awak media, Sabtu (18/12).

Secara tekhnis lanjut Tamrin, uji coba tanam bawang merah sistem demplot di tahun 2021 ini masih menggunakan varian lokal. Pun lahan digunakan masih marginal.

“Lahan marginal butuh adaptasi. Tidak ada lahan marginal yang kita kembangkan satu kali langsung berhasil. Karena ada penyesuaian dengan lingkungan,” lanjutnya

Ia mengungkapkan, pihaknya bisa mempelajari ketahanan tanaman varian lokal dengan kondisi lingkungan. Sehingga 2022 mendatang pengembangan ketahanan pangan komoditas bawang merah di Wakatobi bisa didorong secara besar-besaran.

“Dan ini sudah terjawab. Ini bukan kegagalan, memang itu tantangan. Karena demplot tadi itu hipotesa kita diterima atau tidak diterima. Itu yang harus dijawab oleh masyarakat. Jadi salah orang bilang bahwa gagal, itu demplot namanya,” ungkapnya

Terkait matinya tanaman bawang merah disalah satu titik dari tiga lokasi yang ada, kata Ia, pihaknya sudah mengirimkan sampel ke Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sultra untuk diteliti.

Dari sinilah akan diketahui, apakah komoditas bawang merah murni diserang hama, aplikasi petani yang salah, ataukah akibat herbisida (racun rumput).

“Jadi sampel yang dikirim ada dua jenis. Pertama adalah bawang merah yang terserang penyakit, yang kedua adalah benih yang kami gunakan. Mereka sudah terima dan sudah melakukan kajian secara langsung, selanjutnya akan dilakukan uji laboratorium,” Kata Tamrin. (gayus)

You might also like More from author

Comments are closed.