Akibat Kemarau Ratusan Pohon Cengkeh Mati

KABAENA- Tanaman komoditi cengkeh yang menjadi tanaman primadona warga Desa Rahadopi selama masa dasawarsa ini, telah merubah tatanan kehidupan warga masyarakat Desa Rahadopi ke arah yang lebih baik. Tinggal bagaimana kelihaian ibu rumah tangga dalam memenest keuangan rumah tangga.

Komoditi ini kemudian merambah pengembangannya di beberapa desa di Pulau Kabaena, sehingga hampir semua kawasan kaidea terisi dengan tanaman favorit ini.

Namun, sejak kemarau panjang melanda, hampir ribuan tanaman cengkeh milik warga mati, baik yang sudah produksi maupun yang baru berumur dua hingga tiga tahun.

Demikian diungkapkan Suli salah seorang petani cengkeh warga desa Rahadopi kepada Keptonnews di rumah kediamannya, Jum’at, 27 Desember 2019.

” Dikatakan, tanaman cengkeh yang mengalami kematian selain terserang hama semut pada akar, juga karena kekeringan. Warga yang memiliki mata air di dekat perkebunan melakukan upaya penyelamatan tetapi banyak juga yang tetap mati,” ucap petani cengkeh berhasil ini.

Kebun cengkeh yang tidak memiliki sumber air, terpaksa pasrah saja. Paling-paling bisa di ganti dengan bibit baru,”

Lain lagi yang di keluhkan La Udin warga Poo Avu kepada awak media, kebun cengkeh miliknya di Ee Nomolo tinggal bersisa 4 pohon yang hidup dan lainnya mati akibat kemarau panjang.

“Untung baru sebagian yang belajar berbuah, tetapi cengkeh milik pak Anton di dekat banteanya mati semua, padahal cengkeh-cengkeh tersebut di siram pagi sore tetapi terap juga mati,” ucap La Udin.

Ini semua lanjut warga Buton ini, adalah cobaan yang harus diterima para petani dengan sabar. Tetapi di balik ujian ada hidayah, ” kata La Udin.(mar)

Comments are closed.