DEWAN JURI APRESIASI “POLIMA” INOVASI BUDAYA MENUJU REVOLUSI MENTAL

Walikota Baubau, DR.H.AS Tamrin memakai busana adat kesultanan Buton bersama empat dewan juri Anugerah Kebudayaan. (FOTO: ISTIMEWA)

WALI KOTA Baubau, DR.H. AS Tamrin terpilih sebagai salah satu tokoh yang akan menerima anugerah kebudayaan yang diprakarsai Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Anugerah Kebudayaan merupakan salah satu acara yang diselenggarakan PWI dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2020.

Panitia HPN di PWI pusat, bersama tim dewan juri melakukan seleksi ketat bagi para calon penerima anugerah kebudayaan.  Mulai dari penilaian sajian proposal usulan,  hingga penilaian langsung dihadapan dewan juri. Sepuluh kepala daerah yang masuk nominasi penerima anugerh kebudayan tahun ini, juga diwajibkan menyampaikan presentase terkait inovasi dan kebijakan yang telah dilakukan selama memimpin daerahnya. Bagi Kepala daerah yang masuk nominasi penerima anugerah kebudayaan, tetapi tak hadir menyampaikan presentase, langsung digugurkan oleh dewan juri.

H. AS Tamrin, saat menyampaikan presentase di hadapan tim penilai pada 9 Januari 2020, mengupas masalah pentingnya budaya dalam pembangunan. “POLIMA” (Pomaamaasiaka, Popiapiara, Pomaemaeaka, Poangkaangkataka, dan Pobincibinciki kuli), menjadi materi inti yang disajikan Walikota AS Tamrin dihadapan lima dewan juri. Menurutnya, nilai nilai Polima sudah ada dalam masyarakat Buton sejak lama.

Karena itu, selama memimpin Kota Baubau, AS Tamrin berupaya melakukan inovasi dengan merevitalisasi, menginternalisasi dan mengimplementasikan nilai nilai Polima dalam masyarakat dengan melakukan gerakan terstruktur yang menyasar publik.  Mulai dari kampanye pemasangan spanduk, penempelan stiker, kuliah umum, hingga pengembangan muatan lokal dalam kurikulum pendidikan, khususnya sekolah dasar.

Kata AS Tmrin, semua itu sebagai bentuk komitmen pemerintah Kota Baubau dalam perwujudan pembangunan daerah berlandaskan kearifan budaya lokal.

Dihadapn tim juri, AS Tamrin juga menjelaskan posisi Kota Baubau sebagai pusat eks Kesultanan Buton yang masih menyimpan segudang peninggalan sejarah. Mulai dari situs cagar budaya, adat istiadat hingga nilai-nilai luhur para pendahulu.

Salah satunya benteng keraton Buton. Benteng yang mulai dibangun pada masa pemerintahan La Sangaji ke-III dari 1591-1597 dan selesai dibangun pada masa pemerintahan La Buke Gafarul Wadudu (1632–1645) ini telah didaulat sebagai benteng terluas didunia.

“Panjangnya 2.740 meter dengan luas lebih dari 23 hektar,” urai Dr AS Tamrin saat memaparkan presentasi anugerah kebudayaan PWI Pusat dihadapan dewan juri yang terdiri dari Nungki Kusumastuti, Agus Dermawan T, Ninok Leksono, dan Yusuf Susilo Hartono di kantor PWI Pusat, Jakarta, Kamis 9 Januari 2020 lalu.

Hadir dengan mengenakan baju kebesaran Kesultanan Buton, Dr AS Tamrin merinci kiat pemerintah dalam melaksanakan pembangunan berbasis kebudayaan. Kata dia, berbagai program revitalisasi telah dilakukan guna melestarikan dan mengembangkan eksistensi benteng keraton Buton.

“Kita saat ini juga tengah berjuang agar benteng keraton Buton bisa menjadi salah satu situs warisan dunia. Ini menjadi target kedepan agar gema peninggalan luar biasa ini semakin dikenal masyarakat luas,” katanya.

Selain itu, berbagai event budaya juga turut dihelat. Event budaya dapat digunakan sebagai ajang promosi keragaman budaya mulai dari melestarikan pakaian adat, situs budaya, hingga eksistensi ritual adat yang sudah sejak lama dipertahankan leluhur hingga saat ini.

“Kesemuanya untuk membangkitkan dan menggunggah masyarakat Baubau untuk bersama mempertahankan keragaman budaya yang dimiliki. Event ini juga akan berimplikasi dengan kesejahteraan ekonomi masyarakat utamanya para pengrajin, seperti tenunan, pakaian adat, serta pelaku ekonomi tradisional lainnya,” katanya.

Sejak dulu, masyarakat Baubau sebagai masyarakat eks Kesultanan Buton sudah memiliki landasan hidup yang diikat dalam falsafah “Sara Pataanguna”. Falsafah ini lalu diimplementasikan dalam budaya Polima yang kini digaungkan sebagai landasan pembangunan daerah.

Kata dia, budaya Polima memuat lima nilai dasar kehidupan dalam bermasyarakat. Diantaranya, Poma-masiaka (Saling menyangangi), Popia-piara (Saling menjaga), Pomae-maeaka (Saling menanggung rasa malu), dan Poangka-angkataka (Saling menghormati).

Keempat nilai dasar ini lalu diikat oleh falsafah Pobinci-binciki Kuli (Arti harafiah saling mencubit) sebagai kausa prima. Pobinci-binciki kuli dapat dimaknai sebagai suatu perbuatan agar dipikirkan terlebih dahulu supaya tak menyakiti orang lain.

“Nilai-nilai ini saya sudah tuangkan dalam tulisan atau buku berjudul Polima, Gema Pancasila dari Baubau. Polima ini sebagai kristalisasi nilai Pancasila agar masyarakat bisa hidup secara rukun, aman dan damai,” katanya.(***)

 

Dipuji PWI Pusat, AS Tamrin Bangun Baubau Berlandaskan Nilai Luhur Budaya

PEMERINTAH Kota Baubau memfokuskan empat pilar pembangunan. Diantaranya, pembangunan sumber daya manusia, pembangunan sarana dan sarana infrastruktur, pembangun ekonomi berbasis ekonomI kerakyatan yang bertumpu pada kearifan lokal dan pembangunan budaya.

Walikota Baubau, DR.H.AS Tamrin

Keempat pilar berjalan paralel, saling mendukung dan saling terkait. Pembangunan juga tentunya harus sesuai dengan potensi daerah.

“Kita tidak boleh membangun ekonomi tapi ancaman lingkungan hidup besar. Tidak boleh, harus sejalan. Tidak boleh membangun infrastruktur tapi mengorbankan budaya, itu juga tidak boleh, harus paralel,” katanya.

Agar kesemuanya paralel dan saling menguatkan maka nilai budaya menjadi inti. Pembangunan moral manusia sebagai pelaku pembangunan adalah hal mendasar yang perlu diperhatikan.

“Harus membangun moral dulu, manusianya. Bagaimana caranya?, dengan menanamkan nilai-nilai luhur budaya Polima. Itu kunci semua pembangunan,” katanya.

Ia percaya dengan moral yang baik maka pembangunan daerah akan baik. Tentunya akan berdampak kepada kesejahteraan masyarakat.

“Bila moral sudah rusak, maka membangun apapun tidak akan mendatangkan kemudaratan atau manfaat kepada masyarakat,” katanya.

Terkait pembangunan infrastruktur, kata dia, beberapa program telah dilakukan. Mulai dari pembangunan jalan lingkar, by pass, bandara diperpanjang, perbaikan pelabuhan hingga sarana perhotelan.

“Pembangunan ini khan bersifat never ending proces, tidak pernah selesai. Makanya kita harus membangun dengan menjaga sumber daya dengan tidak mengeksploitasi dengan membabi buta yang akhirnya menimbulkan bencana,” katanya.

Ia mengatakan di Baubau juga memiliki mineral tambang yang bisa dimanfaatkan. Namun mineral itu lebih baik dijadikan harta karun daripada menimbulkan bencana kepada masyarakat.

“Banyak sumber daya seperti nikel dan aspal. Tapi kita fokus dulu untuk pembangunan sarana dan prasarana seperti bandara, pelabuhan, jalan dan sarana perhotelan,” katanya.

Dr AS Tamrin mengaku terbuka untuk para investor yang ingin menanamkan modal investasi. Tentu saja pemerintah akan membukakan sebuah kran untuk memberikan kemudahan.

“Mulai dari pelayanan yang mudah, murah, gampang dan transparan. Dengan begitu investor yang akan menanamkan modal akan tertarik,” katanya.

Agar menarik minat investor, maka kondusifitas dan keamanan daerah harus dijaga. Nilai Polima hadir sebagai perekat dalam masyarakat agar keamananan dan ketertiban daerah bisa terjaga.

“Dan harus ada kepastian hukum dan itu lahir dari komitmen pemerintah. Kita sementara menyederhanakan aturan agar perizinan tak bertele-tele. Kita potong jalur birokrasi agar bisa memberikan pelayanan prima untuk mendatangkan investasi ke daerah,” katanya.

Nilai Polima juga harus digemakan dalan proses dinamika pemerintahan. Hal itu penting agar tercipta suasana kekeluargaan dalam instansi pemerintah dan ada timbal balik konkrit antara bawahan dan pimpinan begitu pula sebaliknya.

“Jika nilai ini sudah mendarah daging, saya yakin pembangunan daerah akan berjalan dengan pesat,” katanya.

 

Kurikulum Polima, Kristalisasi Pancasila Menuju Revolusi Mental

NILAI budaya Polima sebagai kristalisasi Pancasila diyakini berbanding lurus dengan program “Revolusi Mental” yang digaungkan Presiden RI, Joko Widodo. Tak heran bila Wali Kota Baubau, Dr AS Tamrin menuangkan nilai budaya Polima ini dalam kurikulum pendidikan di daerah.

Walikota Baubau berbusana adat kesultanan Buton saat menghadiri persentase Anugerah Kebudayaan di Gedung dewan Pers, bersama sejumlah kepala daerah yang sempat hadir presentase. (FOTO: HAINIS)

Kurikulum itu masuk dalam muatan lokal di Sekolah Dasar (SD) di Kota Baubau. Budaya Polima diajarkan sejak dini dan disajikan bentuk buku kurikulum agar generasi muda mendatang tumbuh dengan karakter moral yang kuat.

“Itulah awal pemikiran kita. Jadi gema Polima ini lahir dari kegalauan akibat tergerusnya kepercayaan masyarakat kepada pemimpin akibat globalisasi. Sehingga lahir sifat individualistis dan kebebasan yang tak terkendali,” katanya.

Begitu juga perubahan karakter masyarakat. Banyak sifat mulai dari anak-anak hingga dewasa yang telah menyimpang dari budaya sehingga bisa menimbulkan anarkisme yang mengancam keutuhan daerah, bangsa dan negara.

Kata dia, nilai budaya Polima sangat mendasar bagi kehidupan bermasyarakat. Nilai ini dapat dijadikan dasar dalam hal menciptakan suasana kedamaian dan harmoni membangun  daerah dan bangsa.

“Kita akan membentuk tim pengkaji kebudayaan dibidang pembangun. Tim akan bertugas mengurai butir-butir dalam nilai luhur Polima,” katanya.

“Misal dalam Pancasila sila pertama, itu ada butir yang menjelaskan bagaimana implementasinya. Nah, dalam Polima juga akan kita tuangkan butir itu. Contoh Poma-masiaka. Bagaimana butirnya dalam implementasi dalam masyarakat, sehingga nilai ini benar-benar menyentuh dan bisa mendarah daging sehingga kita benar-benar saling menyayangi,” tambahnya.

Bila butir-butir ini sudah bisa dirangkum, kurikulum yang saat ini baru dikhususkan untuk siswa SD maka kedepan akan ditingkatkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Dengan landasan Polima sebagai kristalisasi Pancasila ini, orang nomor satu di Baubau berharap besar bisa menguatkan karakter dan moral anak bangsa dari kemerosotan mental selaras dengan Revolusi Mental yang digaungkan Presiden RI, Joko Widodo. Khususnya di Baubau dan masyarakat Indonesia pada umumnya. (***)

Ketua PWI Baubau Serahkan  SK Anugerah Kebudayaan Kepada Walikota Baubau

Ketua PWI BAubau, La Ode Aswarlin menyerahkan SK Pengurus Pusat PWI tentang anugerah Kebudayaan kepada Walikota Baubau DR.H AS Tamrin. (FOTO:ISTIMEWA)
Walikota Baubau DR.H.AS Tamrin memberikan keterangan pers usai menerima SK Anugerah Kebudayaan dari PWI Pusat (FOTO;HAINIS)

Ketua PWI Baubau La Ode Aswarlin menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengurus Pusat PWI tentang penetapan Walikota Baubau DR H. AS Tamrin sebagai penerima Anugerah Kebudayaan tahun 2020. SK tersebut diterima langsung AS Tamrin usai gelaran upacara pengibaran bendera di halaman Kantor Walikota Baubau di Palagimata Senin 13 Januari 2020.

Usai menyerahkan SK, La Ode swarlin mengucapkan selamat kepada Wali Kota Baubau atas anugerah kebudayaan yang disematkan kepada AS Tamrin. Diketahui, latar belakang penganugerahan kebudayaan yang dilakukan PWI Pusat diperingatan HPN 2020, merupakan inisiatif PWI Pusat dalam rangka membantu Presiden RI untuk mendorong pengembangan nilai-nilai kebudayaan di tingkat daerah.

Atas dasar ini, PWI Baubau berkoordinasi dengan PWI Cabang Sultra untuk mengusulkan Wali Kota Baubau AS Tamrin sebagai salah satu calon penerima anugerah.

Berdasarkan hasil pengkajian tim dewan juri, selanjutnya proposal yang diajukan kepada PWI Pusat, masuk dalam 10 besar calon penerima Anugerah Kebudayaan yang diundang untuk melakukan presentase langsung di hadapan dewan juri pada tanggal 8 S/d 9 Januari 2020 lalu.

Setelah dilakukan presentase, selanjutnya diumumkan hasilnya beberapa waktu lalu oleh dewan juri.

“Alhamdulillah Wali Kota Baubau masuk dalam salah satu kepala daerah yang ditetapkan sebagai penerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat. Rencananya penganugerahan ini akan diserahkan di puncak peringatan Hari Pers Nasional, 9 Februari di Kota Banjarmasin,”

Yang patut disyukuri, dari berbagai daerah di nusantara yang mengajukan proposal sebagai calon penerima Anugerah Kebudayaan, Kota Baubau salah satu daerah yang diapresiasi karena mendorong pembangunan moral generasi melalui nilai-nilai warisan kebudayaan yang saat ini dikenal dengan Polima (Pomamasiaka, Poangka-angkataka, Pomae-maeaka, Popia-piara dan Pobinci-bincikikuli)

Polima sebagai perekat persatuan dan kesatuan dalam bingkai sistem kearifan lokal yang diadopsi dari Sarapatanguna telah dituangkan dalam buku “Polima Gema Pancasila dari Baubau”.

Jika tidak ada aral melintang, momentum peringatan Hari Pers Nasional 2020 di Kota Banjarmasin, juga akan dilakukan beda buku “Polima Gema Pancasila dari Baubau”.

“Satu penegasan yang disampaikan ketua dewan juri saat penyerahan surat keputusan penetapan kepala daerah yang menerima anugerah, bahwa pembangunan moral merupakan salah satu poin penting yang harus didorong demi kemajuan dan masa depan bangsa. Dan hal ini telah dilakukan oleh Bau-Bau,” (***)

 

 

Comments are closed.