PDAM Tuntas Pasang 9.284 SR, Selamat Tinggal Derita Berabad Abad

Arusani Raih Penghargaan dari Indonesia Development Archievement Foundasion

Kabag Teknik PDAM Busel, Jasmin, Dirut PDAM, Tamrin Tamim dan Edwar Mukdir, Kabag Umum dan Keuangan PDAM Busel. FOTO; ISTIMEWA

SEJARAH baru pembangunan fasilitas air bersih di Buton selatan diawali dari Gunung Sejuk dengan memanfaatkan sumber mata air Laloeya. Kepala Bagian Teknik PDAM Busel, Jasmin, ST menjelaskan, mata air Laloeya digarap sejak 2016. Debit airnya mencapai 45 liter per detik, dialirkan untuk melayani masyarakt di dua kecamatan, yakni Kecamatan Lapandewa dan sebagian Sampolawa.

Warga Busel di Kecamatan Sampolawa, Lapandewa dan Batauga lumayan lebih mudah mendapat layanan air bersih, masih ada beberapa sumber mata air yang jadi andalan. Tapi penduduk di empat kecamatan yang bermukim di Pulau Batu Atas, Kadatua, Siompu dan Siompu Barat, mereka jauh lebih sulit memperoleh air bersih.

Tak ada sumber mata air yang nampak di permukaan tanah, dan tak ada sungai. Satu satunya sumber air yang terlihat hanya ada di Kecamatan Siompu. Warga menyebut mata air kula. Berada di dalam goa. Sumber air inilah yang digarap PDAM dengan membangun bak reservoir berukuran besar, lalu air dalam goa dipompa naik dan ditampung dalaam bak. Setelah bak terisi, barulah bisa dialirkan ke rumah warga dengan sistem grafitasi.

Sementara di Kadatua dan Batu Atas yang sama sekali tak ada sumber mata air, Pemkab Busel membangun sumur bor raksasa. Di Kecamatan Batu atas, sumur bor dibuat dengan kedalaman 80 meter, dilengkapi bak reservoir berukuran besar, sekira 160 meter persegi. Daya tampung airnya lumayan. Bisa memasok kebutuhan air bersih untuk 1.500 rumah warga.

Hal serupa dilakukan di Kecamatan Kadatua, dan sementara masih dalam proses pembangunan. Menurut Direktur PDAM Busel, Tamrin Tamim, penduduk di Kecamatan Batu Atas tersisa sedikit lagi yang belum mendapat layanan air bersih dari PDAM. “Sudah mau habismi,” singkat Tamrin Tamim, ketika ditanya berapa KK warga Batu Atas yang belum terlayani air bersih.

Dalam membangun sarna dan prasarana air bersih di Busel, selama kurun waktu 2016 hingga 2019, Pemkab Busel telah mengucurkan dana Rp.39 miliar melalui penyertaan modal ke PDAM. Dari angka itu, pemerintahh pusat telah menggantinya senilai Rp. 29 miliar, melalui program hibah air minum. Artinya, Pemkab Busel dalam membangun fasilitas air bersih baru menghabiskan APBD murni sebanyak Rp.10 miliar.

Hasilnya lumayan mengagumkan, karena ternyata kebijakan pembangunan Bupati Busel H. La Ode Arusani, itu berbuah manis. Ada hampir 10 ribu rumah yang sudah mendapat layanan air bersih dari PDAM. Data per januari mencapai angka 9.284 sambungan rumah(SR). Kabag Umum dan Keuangan PDAM Busel, Edwar Mukdir, memastikan tahun ini penikmat air bersih PDAM akan mencapai lebih dari 10.000 SR. Alasannya, Bupati Busel masih memprioritaskan program penuntasan masalah sarana dan prasarana air bersih bagi masyarakat.

CEO Indonesia Development Achievement Foundation, Yuli Nurlina, Menyerahkan piagam penghargaan kepda Bupati Busel, H. La Ode Arusani.
Bupati Busel, H. La Ode Arusani berpose bersama usai menerima Penghargaan dari Indonesia Development Achievement Foundation, FOTO;ISTIMEWA

Disamping itu, Tamrin Tamim ST, MT sebagai perencana handal dan profesional di sektor penyediaan sarana air bersih mampu memimpin PDAM sesuai harapan pemerintah, dan mendapat pengakuan beberapa lembaga. Antara lain BPKP Provinsi Sultra yang memberikan penghargaan kepada Pemkab Busel atas keberhasilan PDAM menjadi PDAM terbaik dan sehat di tahun 2018, dan Indonesia Development Archievement Foundasion (IDF)` Kedua penghargaan itu diterima langsung Bupati Busel, H. La Ode Arusani.

Dahulu kala, sebut saja sejak zaman belanda, penduduk di Pulau Batu Atas, Siompu dan Kadatua memang akrab dengan status penderitaan karena kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan minum dan menanak nasi. Sumur memang ada, tapi airnya tentu hambar dan masin karena tetap saja terpapar air laut.

Umumnya, warga disana sering melakukan perjalanan jauh ke Batauga atau ke Kota Baubau untuk mengambil air bersih. Tentu saja mereka pertaruhkan nyawa, karena harus membelah lautan, melawan ganasnya ombak. Kondisi itu bahkan masih berlangsung hingga era reformasi, sebelum ada sentuhan program pembangunan sarana air bersih.

Tapi, sekarang zaman sudah berubah, Bupati Busel sebagai putra asli Kadatua memang harus bisa menuntaskan ketersediaan air bersih, sebab dia tau kondisi geografis wilayah yang dipimpinnya, dan juga pernah sempat merasakan bagaimana sulitnya memperoleh air bersih. Jika tak tuntas dizaman sekarang, sulit membayangkan seperti apa nasib investasi jangka panjang itu, apakah masih berlanjut atau tidak, tergatung komitmen sang pemimpin. “Sudah Era-Nya me Arusani” selesaikan tugas berat itu.

Menuntaskan masalah air bersih di Batu Atas, Kadatua dan siompu berarti telah menghapus derita warga yang sudah berlangsung berabad abad. Warga tak perlu lagi menyeberangi lautan untuk mengambil air bersih. Karena itu DPRD Busel, juga harus tetap berada di garda terdepan menjalankan fungsinya guna menyelesaikan kebutuhan dasar warga tersebut. ***

Comments are closed.