Kisah Pilu Wa Ani, “Janda Tuna Daksa” Nafkahi Satu Anak Berpenghasilan Dari Buruh Irat Bambu
WAKATOBI,KEPTONNEWS.COM-Isteri mana yang mau dimadu. Terlebih lagi ditinggal nikah oleh sang suami. Tapi itulah yang dialami Wa Ani, wanita penyandang tuna daksa (cacat fisik) yang hingga kini harus berjuang sendiri membesarkan anak dengan menggantungkan hidup dari bekerja sebagai buruh irat bambu.
Kisah hidup Wa Ani, memang tak seberuntung kebanyakan ibu lainnya di Desa Kabita, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Wakatobi. Rumah tangga yang pernah dijalaninya itu, hanya seumur jagung. Pria yang menyuntingnya empat tahun lalu tak setia dan telah menikahi wanita lain di daerah rantau.
“Kalau tidak salah, waktu itu anak saya ini masih berusia empat bulan. Jangankan menafkahi saya, anaknya saja ini sama sekali tidak pernah dikirim uang,” kenang, Wa Ani, mengisahkan nasibnya yang kurang beruntung itu kepada Keptonnews.com.
Dari sinilah wanita berusia 42 tahun tersebut bekerja keras, seorang diri lewati getirnya hidup sebagai janda. Pendidikan tak ada. Rumah pun tak punya. Alih-alih, ia memilih jadi buruh irat bambu berpenghasilan Rp 40 ribu per hari.
Hanya profesi ini yang ia bisa kerjakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Rasa lelah sudah pasti ada. Tanpa bantuan alat kursi roda, ia harus merangkak dari satu rumah, ke rumah tetangga lainnya untuk melakukan pekerjaannya.
Jika ada yang membutuhkan jasanya, kesempatan bagi wanita kelahiran 1980 itu untuk mendapat pundi-pundi rezeki ditengah sulitnya ekonomi, bahan sembako yang terus melejit.
“Tidak tiap hari saya dipanggil. Ada kalanya dalam satu minggu dua sampai tiga kali, kadang juga dalam satu bulan hanya 10 kali orang panggil saya untuk irat bambu. Pokonya tak pasti,” katanya.
Sebagai penghasilan tambahan, ia juga menerima jasa mengayam jelajah dan membelah bambu milik tetangga. “Kalau jelajah per lembar saya dihargai Rp 11 ribu. Sementara belah bambu per hari Rp 60 ribu. Awal-awalnya agak berat saya jalani,” terangnya.
Hidup berstatus janda memang berat. Tidak semua pekerjaan bisa ia lakukan sendiri. Beruntungnya, Wa Ani, masih punya saudara serta orang tua yang membantu mengasuh puteranya, Muhammad Fauzan, yang kini sudah bersekolah di Taman Kanak-kanak (TK).
Saat ini Wa Ani dan puteranya masih tinggal satu rumah bersama kedua orang tuanya. (gayus)
Comments are closed.